ATTENTION

SELAMAT MEMBACA ^_^

Rabu, 12 Januari 2011

Tata Letak Rumah Berdasarkan Data Kelahiran

Feng shui, makhluk apakah itu? Namanya memang ”berbau asing”, namun sebenarnya penerapan feng shui sudah lama dilakukan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Feng shui berasal dari masa Cina purba. Setelah dikembangkan sarjana-sarjana Barat, pengetahuan feng shui menyebar ke berbagai belahan dunia dengan segala penyesuaian teorinya.

Dalam pengertian populer, feng shui adalah pengetahuan tentang tata letak rumah beserta unsur-unsurnya—termasuk perabotan rumah tangganya—berdasarkan data kelahiran seseorang. Orang yang memiliki rumah berdimensi feng shui diyakini akan memperoleh segala keberuntungan yang diharapkannya.

Pemikiran feng shui berasal dari Fu-hsi (3322 SM) dan Lao-tze (1122 SM). Konsepnya adalah keselarasan dan keseimbangan antara manusia dan alam. Menurut ajaran itu, sebagaimana Buku Pintar Feng Shui (2002), dalam jagad raya ada yang disebut chi, yaitu kekuatan gaib yang mengatur alam semesta. Chi juga mempengaruhi tubuh, nasib, dan pikiran seseorang.



Kekuatan gaib itu terdiri atas dua unsur, yakni yin dan yang. Keduanya saling bertentangan. Yin bersifat gelap, pasif, dan betina. Sementara yang bersifat terang, aktif, dan jantan. Yin dan yang terus berinteraksi menciptakan perubahan siklus. Namun semua yang bertentangan itu dapat disatukan dengan konsep Taoisme. Dari olahan inilah kemudian tercipta I-ching atau Buku Perubahan, sebagai buku induk para master feng shui.


Kotak Lo-shu

Perhitungan feng shui menggunakan pola angka 1 hingga 9. Angka-angka itu dipilih karena merupakan bilangan asli. Setiap angka terdapat pada sebuah kotak kecil. Semuanya terdapat 9 kotak kecil, masing-masing 3 baris horizontal dan 3 baris vertikal. Ajaibnya, bila dijumlahkan secara horizontal, vertikal, dan menyilang, maka hasilnya selalu 15. Itulah yang disebut Kotak Lo-shu standar.

Kotak ajaib itu ditemukan oleh Fu-hsi ketika dia melihat seekor kura-kura merayap keluar dari Sungai Lo. Dia lalu terpukau pada pola titik-titik air di punggung sang kura-kura. Angka-angka dalam Kotak Lo-shu standar itu adalah:



Kotak Lo-shu melambangkan sembilan tipe energi chi. Angka 9 menunjukkan arah Selatan, sebagaimana dikenal dalam kompas feng shui. Angka-angka itu akan berputar setiap jam, hari, bulan, dan tahun. Dengan demikian jenis energi chi pun tidak selalu sama setiap saat. Bisa berubah-ubah seperti halnya nasib manusia. Fungsi Kotak Lo-shu antara lain untuk mendapatkan waktu dan arah yang tepat ketika pindah/renovasi rumah, menentukan hari penting, dan memulai bisnis baru.

Perhitungan feng shui juga mengandalkan Ba-gua (Pa-kua). Pa-kua adalah delapan lambang yang masing-masing mengandung karakteristik berkaitan dengan alam, manusia, hubungan keluarga, arah kompas, elemen, warna, bentuk, dan bagian-bagian rumah.

Pada dasarnya feng shui memiliki berbagai aliran, terutama setelah dikembangkan di luar Cina. Namun yang dikenal secara luas adalah Sistem Lima Elemen dengan delapan arah mata angin. Kelima elemen pokok dalam feng shui adalah kayu, api, tanah, logam, dan air. Kelimanya merupakan elemen yang mutlak harus ada di atas bumi.

Setiap elemen saling berpengaruh dalam siklus mendukung (produktif) dan siklus menghancurkan (destruktif). Siklus produktif berjalan dengan urutan api-tanah-logam-air-kayu-kembali ke api. Artinya, api membentuk tanah, tanah melahirkan logam, logam mengandung air, air menghidupkan kayu, dan kayu menyalakan api.

Sementara siklus destruktif berlangsung dalam urutan kayu-tanah-air-api-logam-kembali ke kayu. Artinya, kayu merusakkan tanah, tanah menghalangi air, air memadamkan api, api melelehkan logam, dan logam memotong kayu. Bangsa Cina purba juga mengaitkan kelima elemen dengan waktu, ruang, indera, warna, suasana hati, dan penyakit.


Geomantika

Secara harfiah feng shui (bahasa Mandarin) berarti angin (feng) dan air (shui). Dalam dialek Hokkian feng shui disebut dengan hong shui. Jadi feng shui identik dengan hong shui. Di mata ahli bangunan feng shui dikenal sebagai geomantika atau pengetahuan tentang denah dan gambar bangunan.

Disebut feng shui karena dipercaya energi chi itu bergerak seperti air yang pasang dan surut serta seperti angin yang bertiup mengelilingi bumi. Karena itu feng shui berusaha mengatur dan menempatkan ruangan beserta perabotnya di lokasi tertentu agar energi chi yang mengalir membawa keberuntungan bagi seluruh penghuni rumah. Bila tata letak sudah benar, maka energi chi yang ditimbulkan akan membuat nasib bagus dalam arti seluas-luasnya, misalnya kelimpahan rezeki, karier mapan, usaha berkembang, kesehatan prima, kebahagiaan meningkat, kesuksesan berlanjut, dan kehidupan semakin harmonis.

Untuk itu data kelahiran seseorang amat menentukan perhitungan feng shui, terutama data kepala keluarga atau pencari nafkah utama. Dari data kelahiran akan dihasilkan sebuah angka pribadi yang disebut kua. Seperti halnya Kotak Lo-shu, angka kua juga terdiri atas angka 1 hingga 9. Setiap bilangan memiliki arah dan sektor bagus atau jelek masing-masing.

Angka kua dihitung berdasarkan kalender lunar Cina, bukan seperti kalender Masehi yang kita pakai sekarang. Data kelahiran juga menentukan shio (lambang zodiak hewan) yang dimiliki setiap individu. Shio ikut mempengaruhi hitungan terhadap arah hadap rumah. Bangsa Cina mengenal 12 shio yang secara berurutan adalah tikus, kerbau, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi. Masing-masing hewan memiliki lokasi tetap dalam sebuah siklus lingkaran. Sesuai angka pada jam, tikus terletak pada 12, kerbau pada 1, dan seterusnya. Setiap shio mengenal lagi sistem batang langit dan cabang bumi untuk membantu analisis feng shui.

Feng shui bukanlah ilmu klenik atau takhyul. Boleh percaya boleh tidak. Seperti halnya akupunktur (tusuk jarum) dan pijat refleksiologi yang berasal dari masa Cina purba, feng shui juga sebenarnya sudah lama dikenal di Indonesia. Namun kepopulerannya baru terangkat setelah sejumlah media cetak menyelenggarakan rubrik feng shui. Bukan itu saja. Maraknya rubrik sejenis berikut talk show pada sejumlah stasiun radio dan televisi ikut mendongkrak popularitas feng shui.




Bukan berarti setelah mengikuti prinsip feng shui, keberuntungan kita akan segera meningkat dalam sekejap. Masih ada satu hal lagi yang berada di luar jangkauan kita, yakni keberuntungan langit atau takdir. Feng shui hanyalah keberuntungan bumi, yang keberadaannya di bawah keberuntungan langit.

Penulis adalah Arkeolog dan Pengamat Feng Shui

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar